PENGAMBILAN KEPUTUSAN
BAB
I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Sesungguhnya, segala sesuatu yang
dilakukan organisasi melibatkan sebuah keputusan dari berbagai macam. Jelasnya,
sebuah organisasi bukan hanya merupakan sebuah mesin kreasi, namun juga sebuah
mesin pembuat keputusan. Pada setiap tingkat, dan dalam setiap sub unit,
masyarakat secara kontinyu membuat keputusan, dan bagaimana mereka membuat
batasan-batasan dengan baik, serta seberapa banyak nilai yang diciptakan
organisasi mereka.
Pembuatan keputusan organisasi
merupakan sebuah proses menanggapi sebuah masalah dengan mencari dan memiliki
solusi atau rangkaian tindakan yang akan menciptakan nilai bagi para pemegang
saham organisasi. Apakah masalah tersebut adalah untuk menemukan input-input
terbaiknya, untuk memutuskan cara yang tepat guna menyediakan servis kepada
para konsumennya, atau untuk menggambarkan bagaimana hubungan dengan sebuah
kompetitor agresif, dalam masing-masing kasus para manager harus memutuskan apa
yang akan dilakukan. Pada umumnya, para manajer diperintahkan untuk membuat dua
macam keputusan; keputusan yang terprogram dan tidak terprogram.
Keputusan-keputusan terprogram
merupakan proses yang refetitif dan rutin. Aturan-aturan, rutinitas, dan
prosedur operasi standar dapat dikembangkan secara matang untuk menangani
keputusan-keputusan. Banyak rutinitas dan prosedur pemilihan solusi yang sesui
dirumuskan dalam sebuah aturan organisasi dan prosedur pelaksanaan standar dan
dalam nilai-nilai serta norma-norma budayanya.
Keputusan tidak terprogram adalah
keputusan keputusan tidak terstruktur. Tidak ada aturan, rutinitas ataupun
prosedur operasi standar yang dapat dikembangkan untuk menanganinya.
Solusi-solusi harus dikerjakan ketika masalah-masalah muncul. Pembuatan
keputusan tidak terprogram membutuhkan lebih banyak aktifitas penelitian dan
tindakan oleh para manager untuk menemukan solusi daripada hanya sekedar
melakukan pembuatan keputusan terprogram. Penelitian tidak rutin dan
perkembangan didasarkan kepada pembuatan keputusan tidak terprogram oleh para
penelitian yang bereksperimen secara kontinyu untuk menemukan solusi masalah.
Pembuatan keputusan terprogram
memungkinkan sebuah organisasi untuk meningkatkan efesiensi dan menurunkan
biaya-biaya pembuatan barang dan jasa. Pembuatan keputusan tidak terprogram
memungkinkan organisasi dengan lingkungan dan untuk menemukan cara-cara
bertindak baru sehingga dapat mengeksploitasi dan memanipulasi lingkungannya
secara efektif. Pembuatan keputusan terprogram menyediakan stabilitas dan
meningkatkan kemampuan prediksi . pembuatan keputusan tidak terprogram
memungkinkan organisasi merubah dan beradaptasi sehingga dapat berhubungan
dengan kejadian-kejaian yang tidak dapat diprediksi.
- Permasalahan
-
Bagaimana
metode-metode pengambilan keputusan yang biasa di lakukan oleh para pemimpin
dalam suatu oprganisasi.
-
Bagaimana
seharusnya seorang pemimpin menanggapi suatu masalah dan bagaimana
menanggulanginya, pembelajaran mengenai organisasi dan bias kognitif.
-
Bagaimana
seorang pemimpin membuat keputusan.
-
Serta
bagaimana perubahan organisasi itu dan restruksinya.
BAB II
PEMBAHASAN
MODEL-MODEL PEMBUATAN KEPUTUSAN
ORGANISASI
Model-model awal dari pembuatan
keputusan menggambarkan sebuah pembuatan keputusan sebagai sebuah proses rasional dimana semua
manager yang tahu akan hal itu mampu menggunakan pembuatan keputusan yang
memungkinkan semua organisasi menyamakan lingkungannya dimana mereka
beroperasi.
Model-model terbaru
memperkenalkan bahwa pembuatan keputusan adalah sebuah proses tidak pasti yang
diturunkan dimana para manajer mencari solusi-solusi
yang mungkin atau tidak menggarah pada hasil yang baik bagi para pemegang saham
organisasi.
- Model rasional
Menurut model rasional, pembuatan
keputusan adalah sebuah proses langsung, proses tiga tahap:
Tahap 1, Para manajer
mengidentifikasi masalah yang butuh untuk dipecahkan. Para manager dari
organisasi yang efektif, misalnya menggunakan sejumlah besar waktu untuk
menganalisa semua aspek dari lingkungan organisasi yang umum dan khusus untuk
mengidentifikasi kondisi-kondisi atau masalah yang memerlukan tindakan baru.
Untuk mencapai sebuah organisasi yang baik, yang bagus antara sebuah organisasi
dan lingkungannya, mereka harus menganalisa lingkungannya dan mengenali
kesempatan-kesempatan atau ancaman pada masa sekarang.
Tahap 2, para manajer secara
individu dan kolektif terus merancang dan mengembangkan sebuah daftar solusi
alternatif dan rangkaian tindakan terhadap masalah yang mereka identifikasi.
Mereka mempelajari cara-cara untuk mengekploitasi keterampilan organisasi dan
sumber daya untuk menanggapi kesempatan dan ancaman.
Tahap 3, para manajer
membandingkan konsekuensi-konsekuensi dari masing-masing alternatif dan
memutuskan rangkaian tindakan mana yang menawarkan solusi terbaik untuk masalah
yang telah mereka identifikasikan.
Model rasional mengabaikan
kemenduaan, ketidakpastian, dan kekacauan yang secara khusus mengganggu
pembuatan keputusan. Para peneliti telah mengkeritik sebagai ketidakrealistisan
atau kesederhanaan dari tiga asumsi model rasional berikut;
1.
Asumsi
bahwa pembuat keputusan mempunyai semua informasi yang mereka perlukan
2.
Asumsi
bahwa pembuat keputusan adalah pintar, dan
3.
Asumsi
bahwa pembuat keputusan setuju tentang apa yang perlu untuk dilakukan
- Informasi dan ketidakpastian
Asumsi bahwa para
manajer menyadari tentang semua alternatif rangkaian tindakan dan konsekuensi
mereka adalah tidak relastis. Untuk asumsi ini menjadi valid, para manajer
memerlukan akses untuk semua informasi penting guna membuat keputusan, dan akan
mengumpulkan informasi tentang setiap situasi yang mungkin dapat ditanggapi
organisasi, dan akan membutuhkan pengetahuan akurat tentang kesamaan
masing-masing kejadian situasi. Jelasnya, pengumpulan semua informasi ini
sangat mahal, dan biaya-biaya informasi tersebut diasosiasikan dengan model ini
akan menjadi lebih dari biasanya.
Asumsi tersebut
yang mungkin untuk untuk mengumpulkan semua informasi yang diperlukan untuk
membuat keputusan terbaik juga tidak realistis. Karena lingkungannya menurunkan
ketidakpastian, setiap alternatif rangkaian tindakan dari konsekuensinya tidak
dapat diketahui. Selanjutnya, hanya jika mungkin untuk mengumpulkan informasi
guna menghilangkan semua ketidakpastian, biaya-biaya untuk pelaksaan tersebut
begitu besar, atau lebih besar daripada beberapa keuntungan potensialorganisasi
yang dapat dibuat dari kumpulan alternatif yang baik. Kemudian tidak ada yang
akan dicapai dari informasi tersebut.
- Kemampuan manajerial
Model rasional
berasumsi bahwa para manajer memiliki kemampuan intelektual tidak hanya untuk
mengevaluasi semua pilihan alternatif yang mungkin tapi juga untuk memilih
solusi terbaiknya. Dalam kenyataanya, para manajer memiliki hanya kemampuan
terbatas untuk mengelolah informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan dan
sebagian besar tidakmemiliki waktu bertindak sebagaimana yang diinginkan model
rasional. Intelegensi dibutuhkan untuk membuat sebuah keputusan menurut model
rasional akan melampaui kemampuan mental manajer dan keperluan ketenagakerjaan
sejumlah manajer yang besar. Model rasional mengabaikan biaya manajerial biaya
manajerial tingkat tinggi.
- Preferensi dan nilai-nilai
Model rasional
berasumsi bahwa para manajer berbeda mempunyai preferensi dan nilai yang sama
dan bahwa mereka akan menggunakan aturan-aturan yang sama untuk memutuskan
alternatif terbaiknya. Model tersebut juga berasumsi bahwa para manajer setuju
tentang apa saja tujuan-tujuan organisasi yang paling penting.
- Model Carnegie
Dalam usaha untuk
menggambarkan relaitas proses pembuatan keputusan lebih akurat, para manajer
memperkenalkan teori keputusan – sebuah rangkaian asumsi baru yang disebut
Model Carnegie. Model Carnegie memperkenalkan pengaruh-pengaruh pemuasan,
rasionalitas yang terikat, dan koalisi-koalisi organisasi.
Perbedaan antara model rasional
dan model carnegie tentang pembuatan keputusan:
|
Model Rasional
|
Model carnegie
|
|
·
Informasi
yang tersedia banyak
·
Tidak
membutuhkan biaya dalam pembuatan keputusan
·
Pembuatan
keputusan adalah nilai bebas
·
Jajaran
penuh dari alternatif yang mungkin dihasilkan
·
Solusi
dipilih dengan persetujuan
·
Solusi
yang dipilih adalah yang terbaik bagi organisasi
|
·
Informasi
yang tersedia terbatas
·
Dibutuhkan
biaya (conto; biaya manajerial, biaya informasi)
·
Pembuatan
keputusan dipengaruhi oleh preferensi dan nilai dari pembuatan keputusan
·
Sebuah
jajaran terbatas dari alternatif yang dihasilkan
·
Solusi
yang dipilih melalui kompromi, tawar menawar, dan akomodasi antara kolaisi
organisasi
·
Solusi
yang dipilih adalah untuk kepuasan organisasi
|
- Pemuasan
Para manajer
mengambil jalan untuk pemuasan – yaitu mereka memutuskan pada kriteria tertentu
yang akan mereka gunakan untuk mengevaluasi solusi-solusi yang mungkin dapat
diterima. Kriteria tersebut secara otomatis membatasi serangkaian alternatif
yang mungkin.
- Rasionalitas yang Terikat
Model Carnegie
berasumsi bahwa para manajer dibatasi oleh rasionalitas yang terikat sebuah
kapasitas terbatas untuk memproses informasi. Kemudian rasionalitas yang
terikat tidak mengimplikasikan kekurangan kemampuan atau motivasi.
- Koalisi Organisasi
Model Carnegie
memandang sebuah organisasi sebagai sebuah koalisi dari minat-minat yang
berbeda, dimana pembuatan keputusan terjadi dengan kompromi, tawar-menawar dari
negoisasi antara para manajer tentang fungsi-fungsi berbeda dan bidang-bidang
organisasi. Beberapa solusi dipilih untuk memenuhi persetujuan dari koalisi
dominan, kelompok manajer atau pemegang saham yang memiliki kekuatan untuk
memilih solusi dan mengerjakan sumber daya – sumber daya yang dapat
mengimplementasikannya. Selanjutnya sebagai perubahan minat, memperbaiki
perubahan koalisi dominan dan pembuatan keputusan.
- Model Incrementalis
Menurut model
Incrementalis tentang pembuatan keputusan organisasi, para manajer memiliki
alternatif rangkaian tindaka yang hanya sekelas, atau secara incrementalis
berbeda dari yang digunakan dahulu, kemudian menurunkan kesempatan-kesempatan
membuat kesalahan. Sering disebut dengan tindakan mengatasi, model ini
mengimplikasikan bahwa para manajer jarang membuat keputusan penting yang
secara radikal berbeda dari keputusan yang mereka buat sebelumnya. Meskipun begitu,
mereka mengoreksi atau menghindari kesalahan melalui sebuah sukses
perubahan-perubahan incrementalis, yang nampaknya mengarah pada rangkaian
tindakan yang lengkap.
Model ini sangat
berbeda dengan model rasional. Menurut model rasional, semua pembuat keputusan
mengukur setiap kemungkinan alternatif rangkaian tindakandan memilih solusi
terbaik. Menurut model incremintalis, para manajer dibatasi oleh kurangnya
informasi dan kurangnya wawasan, bergerak pertahap secara kasuistis untuk
membatasi kesempatan mereka menjadi salah.
- Model tidak terstruktur
Model tidak
terstuktur tentang pembuatan keputusan organisasi dikembangkan oleh Henry
Mintzberg dan koleganya, menggambarkan bagaimana pembuatan keputusan terjadi
ketika ketidakpastian tinggi.
Model tidak
terstruktur memperkenalkan dasar incremental tentang pembuatan keputusan dan
bagaimana pembuatan terjadi dalam sebuah rangkaian langkah-langkah kecil yang
secara kolektif ditambahkan pada sebuah keputusan utama. Keputusan incremental
dibuat dalam sebuah kerangka pembuatan keputusan yang terdiri dari tiga tahap:
identifikasi, Perkembangan, dan Seleksi. Dalam tahap identifikasi para manajer
mengembangkan rutinitas untuk mengenali masalah-masalah dan untuk memahami apa
yang terjadi pada organisasi. Dalam tahap perkembangan mereka meneliti dan
merancang alternatif untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka tentukan.
Solusi-solusi mungkin menjadi rencana baru atau modifikasi rencana lama
bagaimana dalam pendekatan proses mengatasi.
- Model Kaleng Sampah
Pandangan tentang
pembuatan keputusan sebagaimana sebuah proses tidak terstruktur diambil untuk
ekstrimnya disebut Model Kaleng Sampah. Model ini berkisar tentang proses
pembuatan keputusan dan berpendapat bahwa organisasi sepertinya mulai membuat
keputusan dari sudut solusi dan dari sudut masalah. Dengan kata lain, pembuat
keputusan mungkin mengajukan solusi terhadap masalah-masalah tidak ada; mereka
menciptakan masalah yang mereka dapat pecahkan dengan solusi yang tersedia.
Pembuatan keputusan kaleng sampah memunculkan cara berikut; sebuah organisasi
memiliki serangkaian solusi, atau keterampilan-keterampilan yang dapat
memecahkan masalah tertentu. Contohnya, bagaimana menghasilkan konsumen baru,
bagaimana menurunkan biaya produksi, bagaimana membuat inovasi produk. Dengan
memiliki keterampilan tersebut organisasi mencari cara untuk menggunakannya
sehingga para manajer menciptakanmasalah, atau kesempatan-kesempatan pembuatan
keputusan bagi mereka sendiri. Anggap sebuah perusahaan mempunyai keterampilan
dalam pembuatan furniture. Kepala bagian marketing membujuk pimpinan perusahaan
bahwa organisasi sebaiknya mengeksploitasi keterampilan-keterampilan ini dengan
memperluas secara internasional. Kemudian masalah baru bagaimana mengatur
ekspensi internasional diciptakan karena keberadaan sebuah solusi kamampuan
untuk membuat furniture superior.
PEMBELAJARAN
ORGANISASI DAN BIAS KOGNITIF
Karena pembuatan keputusan terjadi
dalam lingkungan yang tidak pasti, tidak mengherangkan banyak keputusan dimana
para manajer dan organisasi membuat banyak kesalahan dan akhirnya gagal. Yang
lainya memungkinkan organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungannya dan
berhasil BEYOND impian manajemen yang keras. Peroses dimana organisasi mampu
beradaptasi dan memodifikasi lingkungannya dan untuk meningkatkan
kesempatan-kesempatan bertahan mereka merupakan pembelajaran organisasi. Tujuan
pembelajaran organisasi adalah untuk meningkatkan kapasitas organisasi, untuk
mengintrpretasikan,dan mengatur lingkungannya agar dapat bertindak secara
efektif. Salah satu dari cara pokok dimana organisasi belajar tentang lingkungannya
melalui keputusan-keputusan yang dapat mengetahui bagaimana mengaturnya.
·
Proses
Pembelajaran Organisasi
Menurut Nystrom dan statbuck,
sebagai organisasi yang belajar membuat keputusan mereka mengembangkan
aturan-aturan dan prosedur-prosedur operasistandar untuk memfasilitasi
pembuatan keputusan terprogram. Jika sebuah organisasi mencapai sukses dengan
menggunakan prosedur standarnya, keberhasilan ini mungkin mengarah pada
kepuasan diri sendiri dan Deter pada manajer dari penelitian dan pembelajaran
dari pengalaman-pengalaman baru. Kemudian pembelajaran lama dapat merintangi
pembelajaran baru dan mengarah pada kelembaman organisasi. Jika pembuatan
keputusan terprogram menuju pembuatan keputusan tak terprogram, tingkat
pembelajaran organisasi menurun. Keputusan dan kekakuan dalam pembuatan
organisasi mungkin dirangkai dan mengarah pada krisis.
Para manajer sering memotong
peringatan-peringatan dimana masalah-masalah yang mendesak dan tidak terasa
dimana krisis berkembang. Bahkan jika mereka memperlihatkan masalah-masalah,
mereka mungkin melengkapi sumber masalah-masalah pada gangguan-gangguan
temporer dalam lingkungan dan mengimplementasikan istilah Nytrom dan Starbuck
sebagai weathering the strom strategies seperti menunda investasi, menurunkan
jumlah pekerja, atau sentralisasi pembuatan keputusan dan menurunkan otonomi
masyarakat pada tingkat rendah dalam organisasi. Para manajer mengadopsi
pendekatan tambahan pada pembuatan keputusan karena lekat terhadap apa yang
mereka tahu adalah lebih aman dari pada memunculkan arah-arah baru dimana
konsekuensi tidak diketahui. Para manajer melanjutkan untuk mengantungkan
informasi yang dicapai dari operasi rutin untuk memecahkan masalah-masalah
informasih yang tidak menyelsaikan dasar sebenarnya dari masalah yang mereka
alami.
Sebuah truktur kognitif adalah
sistem tentang keyakinan interelasi, preferensi, pengharapan, dan nilai-nilai
bahwa seseorang menggunakannya untuk menentukan masalah dan kejadian. Dalam
organisasi struktur kognitif menyatakan diri mereka dalam rencana-rencana,
tujuan-tujuan, cerita-cerita, mitos, dan jargon. Struktur kognitif mempertajam
cara seorang pimpinan manajemen membuat sebuah keputusann dan mereka
mengkodratkan apa yang para manajer merasakannya sebagai kesempatan-kesempatan
dan ancaman-ancaman dalam lingkungannya.
·
Pembuatan
Keputusan dan Bias-Bias Kognitif
Struktur kognitif (sistem
keyakinan, preferensi, harapan, dan nilai-nilai) berkembang setiap waktu dan
menetapkan respon-respon seseorang untuk interpretasi tentang
situasi-situasi.ketika seorang manajer menghadapi sebuah masalah struktur
kognitifnyamempertajam interfrestasi tentang informasi yang didapat; pandang
manajer tentang situasi dipertajam oleh pengalaman awal dan cara-cara berfikir
yang biasa. Pandangan tersebut mungkin dirubah.
Ketidak cocokan kognitif dan
bias-bias kognitif mempengaruhi kemampuan pengolahan informasi para manajer dan
merubah interprestasi para manajer tentang sebuah masalah.
·
Ketidakcocokan
Kognitif
Adalah pernyataan tentang ketidak
nyamanan atau kegelisahan bahwa seseorang merasa terdapat ketidak konsistenan
antara keyakinan dan tindakan-tindakan. Menurut teori ketidakcocokan kognitif
pembuat keputusan mencoba untuk menjaga konsistensi antara image merekam
prilaku mereka, dan keputusan mereka. Para manajer mencari dan
menginterpretasikan informasi yang menginformasikan dan memperkuat keyakinan mereka
dan mengabaikan informasi yang tidak ada. Para manajer juga cenderung untuk
mencari informasi yang hanya secara inkrementalis berbeda dari informasi yang
telah mereka dapatkan dan bahkan mendukung pembangunan posisi mereka.
·
Kontrol
Ilusi
Beberapa orang,seperti entrepeneur,
terlihat mampu untuk menahan tingkat ketidakpastian yang tinggi; yang laen
lebih suka keamanan yang diasosiakan dengan bekerja dalam pembangunan
organisasi. Tanpa menghiraukan toleransi seseorang untuk menduakan
ketidakpastian menjadikan mereka sangat stres. Ketika lingkungan organisasi
atau masa depan organisasi tidak pasti para manajer tidak tahu apakah mereka
telah membuat pilihan yang benar dan sumber organisasi sering dipertaruhkan.
Penelitian memperlihatkan bahwa para manajer ddapat menurunkan tingkat stress
mereka tentang ketidakpasstian dengan memperkuat persepsi mereka bahwa mereka
dalam kontrol suatu situasi. Keyakinan pada kemampuan personal seseorang untuk
mengontrol ketidakpastian dapat menurunkan tingkat stress. Akan tetapi seperti
sebuah persepsi manajer tentang penigkatan-peningkatan kontrol, biasa kognitif
dikenal sebagai kontrol ilusi yang merubah persepsi mereka.
Kontrol ilusi merupakan sebuah
bias kognitif yang menyebabkan para manajer memperhatikan apa yang dihasilkan dari
sebuah tindakan dibawah kontrol personal dan tingkat keterampilan dan kemampuan
yang mereka miliki yang dibutuhkan untuk mengatur ketidakpastian dan
kompleksitas. Dalam situasi yang tidak passti dimana kemampuan mereka dan
kompetensi me reka benar-benar diuji, para manajer mungkin mengembangkan
kemungkinan keyakinan yang tidak rasional tentang tentang kemampuan pribadi
mereka untuk mengatur ketidakpastian. Mereka mungkin tidak meremehkan kemampuan
mereka untuk menggunakan keterampilan mereka dalam spekulasi baru dan menaikkan
program aquissi besar. Sehingga dengan segera, mereka menganggap masalah dan menyadari
bahwa mereka kurang mampu untuk mengatur organisasi yang lebih komfleks secara
efektif.
Sangat sering terjadi, ketika
manajer puncak kehilangan kontrol mereka mencoba untuk memusatkan otoritas
dalam keyakinan yang salah bahwa sentralisasi akan meningkatkan kontrol mereka
dan memungkinkan mereka untuk melihat situasi keliling.
·
Frekuensi
dan Representatif
Frekuensi dan representatif merupakan
tendensi-tendensi yang sering mengarahkan masyarakat untuk salah
menginterprestasikan informasi. Frekuensi adalah bias kognitif yang mencurigai
masyarakat kedalam asumsi bahwa contoh-contoh ekstrim tentang sebuah penomena
lebih lazim daripada mereka yang sebenarnya. Anggap para manajer penjualan
telah memiliki pengalaman pahit dengan seorang pemasok yang telah mengirimi
mereka barang-barang yang tidak sempurna dengan jumlah besar. Karena pemutusan
masalah-masalah manufaktur disebabkan oleh bagian-bagian yang tidak sempurna,
para manajer memutuskan untuk menghentikan hubungan dengan pemasoknya. Bias
frekuensi mungkin menyebabkan mereka menjadi sangat takut tentang
ketergantungan para pemasok lain untuk input mereka. Mereka mungkin memutuskan
untuk mengintegrasi secar vertikal operasi-operasi mereka sehingga mereka dapat
mengontorl inputnya walaupun integrasi vertikal akan meningkatkan biaya.
Meskipun tidak terdapat alasan rasional untuk percaya bahwa pemasok baru akan
sama buruknya, penolakan pemasok membuat para manajer melompat pada sebuah
solusi mahal untuk menghindari resiko.
Refresentatifnes adalah bias
kognitif yang mengarahkan para manajer untuk membuat putusan berdasarkan
contoh-contoh yang tidak mewakili dan kecil. Terbuka untuk sepasang pemasok
yang tidak dapat diandalkan contohnya, mendorong para manajer membuat
jeneralisasi dan mempercayai bahwa semua pemasok tidak dapat diandalkan.
Bias frekuensi dan bias
refresentatif dapat juga berfungsi dalam arah yang berlawanan. Sebuah
perusahaan yang mempunyai sukses besar dengan produk baru mungkin percaya bahwa
produk ini adalah gelombang masa depan dan mencurahkan semua sumber dayanya
untuk mengembangkan jalur produk baru untuk permintaan kecil.
·
Proyeksi
dan Ketahanan Diri
Proyeksi merupakan bias kognitif
yang memungkinkan para manajer untuk menyamakan dan memperkuat preferensi dan
nilai mereka sendiri dengan melengkapi satu sama lain. Anggap sebuah tim top
manajemen yang didominasi oleh para manajer yang terancam oleh situasi ekonomi
yang merosot dan meragukan kemampuan mereka untuk mengaturnya. Rasa terancam
dan tidak berdaya mungkin tim teersebut menyalahkan para manajer tingkat rendah
yang lain yang tidak mampu untuk mengontrol situasi tersebut atau kurangnya
kemampuan atau hasrat untuk melakukan demikian.
·
Eskalasi
Komitmen
Bias eskalassi komitmen merupakan
penyebab kesalahan pembuatan yang kuat lainnya. Menurut model Carnegie tentang
pembuatan keputusan, para manajer menghasilkan sejumlah rangkaian tindakan
alternatif yang terbatas, dari apa yang mereka pilih, mereka berharap akan
mengarah kepada kepuasan (jika tidak optimal) kembali untuk pemegang saham
organisasi . Tapi apa yang terjadi jika mereka memilih rangkaian tindakan yang
salah dan pemegang saham mengalami hasil yang negatif. Sebuah tanggapan logis
terhadap sebuah hassil negatif akan terjadi evaluasi kembali tentang rangkaian
tindakanya. Penelitian mengindikasikan bahwa para manajer yang telah membuat
sebuah yang salah cendrung untuk tetap dengan prilaku yang sama dan
meningkatkan komitmen mereka terhadapnya walaupun mengarah pada hasil balik
yang minim dan ketidakefektifan organisasi. Komitmen eskalasi merupakan bias
kognitif yang mengarahkan para manajer untuk tetap mempunyai komitmen pada
sebuah rangkaian dan menolak untuk mengakui bahwa mereka telah membuat
kesalahan, mungkin karena ketahanan diri atau karena mereka digenggam oleh
kontrol ilusi.
PEMBUATAN
KEPUTUSAN DAN PEMBELAJARAN
Kelembaman organisasi dan
bias-bias kognitif membuat sulit untuk menjaga kualitas pembuatan keputusan
organisasi. Bagaimana para manajer dapat menghindari rutinitas,
keyakinan-keyakinan, dan nilai-nilai yang tidak sesuai untuk
menginterpretasikan dan memecahkan masalah? Ada beberpa cara dimana organisasi
dapat menanggapi pengaruh bias-biaskognitif dan meningkatkan proses pembuatan
keputusan. Hal ini dapat mengimplementasikan strategi bagi pembelajaran
organisasi, meningkatkan keluasan dan keragaman tim top manajemen, menggunakan
‘devil advocacy’ dan ‘dialectical inquiry’ untuk mengevaluasi solusi-solusi
yang ditawarkan, dan mengambangkan sebuah struktur organisasi kolateral.
Strategi-strategi Pembelajaran Organisasi
Para manajer harus secara terus
menerus belajar meninggalkan ide-ide lama dan secara konstan menguji
keterampilan-keterampilan pembuatan keputusan mereka dengan menghadapi
kesalahan-kesalahan pada keyakinan mereka dan persepsi-persepsi mereka. Tiga
cara dimana mereka dapat menistimulasi dalam belajar meninggalkan ide-ide lama
dan pembelajaran ide-ide baru dengan mendengarkan orang yang ingkar, dengan
mengkonversi kejadian-kejadian dalam kesempatan-kesempatan pembelajaran, dan
dengan percobaan.
- Mendengar orang yang ingkar
Untuk mengembangkan kualitas
pembuatan keputusan para top manajer dapat membuat kebijakan mereka terhadap
sekeliling dengan orang-orang yang berbeda dan sering berlawanan pandangan.
Mereka dapat mencoba untuk mengumpulkan informassi baru untuk mengevaluasi
interpretasi baru dan alternatif baru yang dihasilkan oleh para orang yang
ingkar.
Sayangnya penelitian menunjukkan
bahwa top manajer tidak mendengarkan dengan seksama bawahan dan cendrung untuk
mengelilingi mereka dengan ‘yes-men’ yang merubah informasi yang mereka
sajikan, memperluas berita-berita yang baik dan menyimpan berita –berita yang
buruk. Selain itu, karena rasional yang terikat para manajer enggan mendorong
orang yang inggkar karena dia akan meningkatkan sejumlah informasi yang harus mereka
proses.
- Konversi Kejadian-kejadian dalam kesempatan Pembelajaran
Nystrom dan Starrbuck membahas
satu perusahaan tidak teridentifikasi yang mengangkat seorang wakil presiden
untuk revolusi-revolusi yang bekerjanya untuk bertindak dalam setiap 4 tahun dan
mengocok organisasinya dengan mentransfer para manajer dan menentukan kembali
tanggung jawab-tanggung jawab, sehingga rutinitas lama dipelajari kembali dari
masyarakat dan membawa pandangan baru pada situasi yang beragam. Hal ini tidak
membuat banyak perbedaan tentang perubahan-perubahan spesifik apa yang telah
dibuat. Tujuannya adalah untuk membuat cukup luas sehingga orang-orang dipaksa
untuk membuat iterpretasi baru tentang situasi-situasi. Setelah masing-masing
dikocok, produktifitas meningkat selama dua tahun dan kemudian menurun dua
tahun berikutnya sampai organisasi tersebut mengocoknya kembali.
Lebih lazimnya, sebuah organisasi
perlu untuk merancang dan mengatur struktur dan budayanya sehingga para manajer
dimotivasi untuk menemukan tanggapan baru terhadap sebuah situasi. Manajemen
Kualitas Terpadu (TQM) contohnya, didasarkan pada ide tentang membuat
orang-orang bertanggung jawab bagi kelanjutan pengkajian kembali pekerja mereka
untuk melihat apakah peningkatan yang berakibat dalam peningkatan kualitas dan
produktifitas dapat dibuat. Hal serupa sebuah budaya organisasi adalah sebuah
arah yang penting untuk bagaimana orang-orang seharusnya bertindak dan membuat
keputusan.
- Percobaan
Untuk menguji cara berprilaku
yang baik seperti hal baru untuk melayani konsumen atau untuk menufaktur sebuah
produk, para manajer dapat menjalankan eksperimen-eksperimen yang menyimpan
dari apa yang dilakukan secara khusus oleh organisasi. Atau mengambil
pendekatan kaleng sampah, para manajer dapat mengasah otak dengan solusi-solusi
baru yang mengejutkan mereka. Para manajer yang berminat untuk bereksperimen
menghindari over-komitment terhadap solusi-solusi sebelumnya, menurunkan
preferensi untuk salah menginterprestasikan sebuah situasi dan dapat belajar
dari kegagalan mereka.
·
Perubahan
komposisi Tim Manajemen Puncak
Banyak organisassi terlihat tidak
mampu menggunakan strategi yang dibahas untuk meningkatkan pembuatan keputusan.
Bias kognitif dari individu dan struktur serta budaya organisassi dapat membuat
para manajer enggan untuk merubah cara mereka dalam bertindak. Kadang-kadang
terdapat hanya satu cara untuk mengubah pembuatan keputusan organisasi yaitu
dengan mengubah tim manajemen puncak. Meskipun sebuah organisasi mengaji
manajer puncak yang telah berbeda pendapat terhadap keyakinan dan persepsi
umum, perpindahan para manajer puncak dapat menjadi cara yang paling tepat
untuk menghapus memory organisasi serta pembuatan keputusan terprogram,
sehingga organisassi tersebut dapat mengembangkan rutinitas-rutinitas yang baru.
Keragaman dalam tim manajemen
puncak juga menunjukkan para manajer implikasi-implikasi serta konsekuensi dari
banyak alternatif rangkaian tindakan. Seperti halnya pembongkaran mungkin
menyebabkan para manajer mempelajari pengharapan dan asumsi mereka secara lebih
dekat.
·
Advokasi
dan Penyelidikan Dialektika
Para manajer mengambil pendekatan
tambahan untuk membatasi keputusan mereka dengan referensi pada keputusan yang
dibuat dahulu, jadi visi masa depan mereka dibatasi oleh tindakan mereka
sebelumnya. Masalah yang diasosiasikan dengan bias tambahan serta kognitif
dapat diturunkan dengan advokasi dan pebyelidikan dialektika.
Sebuah
organisassi yang menggunakan advikasi melembagakan ketidaksepakatan dengan
menugai seorang manajer atau tim tentang aturan advokasi.
Advokasi
bertanggung jawab terhadap kritisasi pembuatan keputusan organisasi yang
berlangsung dan untuk mempertanyakan asumsi-asumsi tim manajemen puncak yang
menggunakan dalam proses pembuatan keputusan.
Advokasi
dan penyelidikan dialektika meningkatkan pembuatan keputusan dengan menyadarkan
para manajer tentang beberapa solusi masalah yang mungkin terhadap sebuah
masalah dan mendorong analisis tentang sebuah pro dan kontra dari masing-masing
solusi yang ditawarkan sebelum keputusan final. Sebuah organisasi yang
menggunakan penyelidikan dialektika menciptakan timi-tim pembuat keputusan.
Masing-masing tim diprintahkan untuk menghasilkan dan mengevaluasi skenario
alternatif dan rangkaian tindakan dan kemudian merekomendasikan satu solusi
yang baik. Setelah mendengar masing-masing alternatif tim, semua tim dan
anggota manajemen puncak duduk bersama dan menarik bagian rencana masing-masing
yang terbaik dan mengambil sintesa dari rencana final yang menawarkan
kesempatan sukses yang baik.
·
Struktur
Organisasi Kolateral
Sebuah
organisasi dapat berusaha untuk dapat mengembangkan pembuatan keputusan dengan
membangun sebuah struktur Organisasi Kolateral yaitu sebuah organisasi informal
dari para manajer yang membentuk paraler struktur organisasi formal guna
membayangi pembuatan keputusan serta tindakan para manajer dalam organisasi
formal tersebut. Para manajer dalam sistem formal mengetahui bahwa
keputusan-keputusan mereka dievaluasi oleh yang lain dan mereka biasa menguji
alternatif serta mendatangkan solusi. Sebuah organisasi membangun sebah struktul
kolateral untuk mengembangkan kemampuan organisasi dalam untuk merubah dan
membiasakan diri pada situasi baru dan untuk memperluas kemampuannya dalam
membuat keputusan dengan cara yang tidak terstruktur. Struktur organisasi
kolateral memungkingkan sebuah organisasi menjaga kapasitasnya untuk berubah
dan dalam waktu yang sama menjaga kestabilannya.
PERUBAHAN
ORGANISASI DAN RESTRUKTURISASI
Strategi dan struktur organisasi
merupakan hasil yang paling nyata dari pembuatan keputusan organisasi. Sangat
sering pembuatan keputusan membawa perubahan dalam keduanya. Perubahan ini
memungkinkan incremental, seperti perubahan yang dibawa dari keputusan untuk
memperkenalkan aturan baru dan prosedur dari input penjualan atau berhubungan
dengan konsumen. Perubahan mungkin radikal seperti perubahan yang dibawa oleh
keputusan untuk memperkenalkan jalur produk baru atau untuk mempertaruhkan masa
depan organisasi dalam investasi pada teknologi baru contohnya, bioteknologi.
Perubahan organisasi merupakan restrukturisasi sumber daya dan kemampuan untuk
menciptakan nilai dan mengembangkan pengambilan pada pemegang saham.
Tujuan dari perubahan organisasi
terencana adalah untuk menemukan cara baru atau cara yang dikembangkan untuk
menggunakan sumberdaya-sumberdaya dan kemampuan untuk meningkatkan posisi
organisasi dalam lingkungannya. Sebuah organisasi dalam keadaan menurun
membutuhkan untuk menyusun kembali sumber dayanya untuk meningkatkan
ketahanannya dengan lingkungannya. Sebuah organisasi yang berkembang baik
membutuhkan untuk menyusun kembali sumber dayanya sehinggadapat mengembangkan
kesempatan baru untuk menerapkan keterampilan-keterampilannya guna menciptakan
dan mengembangkan pasar baru untuk produknya.
Perubahan organisasi melibatkan
restrukrisasi sumber daya manusia, sumber fungsional, kemampuan teknologi, dan
kemampuan organisasi. SDM merupakan aset yang sangat penting sebuah organisasi.
Sebuah memori organisasi dan pengetahuan yang terdapat dalam keterampilan dan
kemampuan masyarakatnya. Karena keterampilan dan kemampuan ini memberikan
keuntungan kompetitif pada perusahaan. Organisai harus secara terus menerus
memonitor strukturnya untuk mendapatkan cara motivasi dan mengorganisasikan
sumber daya yang paling efektif untuk memenuhi dan menggunakan
keterampilan-keterampilan mereka. Cara sebuah organisasi merubah dan menyusun
kembali sumber daya manusianya adalah kunci untuk meningkatkan efektifitas
organisasi. Biasanya restrukturisasi SDM melibatkan tindakan dalam beberapa
bidang:
- Investasi baru dalam pelatihan dan perkembangan kreatifitas sehingga para pekerja mendapatkan keterampilan dan kemampuan baru.
- Pensosialisasian para pekerja dalam buday organisasi sehingga mereka dapat belajar rutinitas baru dimana kinerja organisasi bergantung.
- Perubahan norma dan nilai organisasi untuk memotivasi tenaga kerja multi budaya yang beragam.
- Melakukan ujian tentang cara dimana promosi dan sistem penghargaan beroperasi dalam tenaga kerja yang beragam.
- Perubahan komposisi dari tim top manajemen untuk mengembangkan pembelajaran organisasi dan pembuatan keputusan.
·
Sumber
Fungsional
Sebagaimana lingkungan yang berubah,
organisasi sering menyusun kembali fungsi-fungsinya untuk mentransfer sumber
daya ke fungsi-fungsi diman sebagian besar nilai dapat di ciptakan.
Fungsi-fungsi krusial tumbuh dalam kepentingan sementara yang tidak berguna
menurunkan penyusutan. Sebuah organisasi dapat mengembangkan nilainya yang
diciptakan oleh fungsi-fungsinya dengan merubah struktur budaya dan
teknologinya. Perubahan dari sebuah fungsi ke sebuah tim produk. Prubahan dalam
struktur fungsional dapat membantu menyajikan sebuah susunan dimana orang
dimotivasi untuk bekerja. Perubahan dari produksi masa tradisional ke sebuah
operasi manufaktur didasarkan pada tim kerja yang diatur sendiri yang telah
menunjukkan bahwa banyak perusahaan dapat menciptakan kualitas produk dan
produktifitas jika para pekerja dapat membagi dalam keuntungan dari sistem baru
tersebut.
·
Kemampuan
Teknologi
Kemampuan
teknologi memberikan kapasitas yang besar kepada sebuah organisasi untuk
merubah dirinya supaya mengeksploitasi kesempatan pasar. Kemampuan
mengembangkan sebuah aliran konstan dari produk-produk baru atau untuk
merancangkan kembali produk yang ada sehingga mereka melanjutkan untuk memikat
para konsumen, adalah salah satu dari kompetisi initi organisasi. Hal serupa,
kemampuan untuk meningkatkan cara barabg dan jasa diproduksi demi peningkatan
kualitas dan reliabilitasnya merupakan kemampuan krusial organisasi. Pada
tingkat organisasi, sebuah orgaisasi harus menyajikan konteks yang
memungkinkannya menerjemahkan kompetensi teknologi kedalam nilai untuk para
pemegang sahamnya. Tugas ini sering melibatkan restrukturisasi aktifitas
organisasi.
·
Kemampuan
Organisasi
Melalui desain struktur dan budaya
organisasi dapat mempergunakan sumber daya manusia dan sumber daya
fungsionalnya untuk mengeksploitasi kesempatan teknologi. Perubahan organisasi
sering melibatkan restrukturisasi kesempatan hubungan antara masyarakat dengan
fungsi-fungsi demi meningkatkan kemampuan mereka dalam menciptakan nilai.
Perubahan-perubahan dalam struktur dan budaya terjadi pada semua tingkat
organisasi dan meliputi perubahan rutinitas individu dalam melayani konsumen,
perubahan kelompok kerja, peningkatan integrasi antara devisi, dan perubahan
budaya peerusahaan dengan perusahaan tim manajer puncak.
Keempat sumber tersebut secara nyata
bersifat interdefenden, hal ini sering tidak mungkin untuk merubah salah satu
tanpa merubah yang lain. Aggaplah sebuah organisasi menginvestasikan sumber
dayanya dan mengrekrut sebuah tim ilmuan yang ahli dalam teknologi
baru-misalnya, bioteknologi. Jika berhasil, perubahan sumber daya manusia ini akan
mengarah pada munculnya sebuah sumber daya fungsional baru dan sebuah kemampuan
teknologi. Manajemen puncak akan dipaksa mengevaluasi kembali struktur
organisasinya serta caranya mengintegrasikan dan mengkoordinasikan
fungsi-fungsi lainnya, untuk meyakinkan bahwa mereka mendukung sumber-sumber
fungsional barunya. Mengeksploitasi sumber daya baru mungkin membutuhkan
gerakan pada sebuah struktur tim produk. Hal ini mungkin membutuhkan penurunan
dan eliminasi fungsi yang tidak lagi menjadi pusat misi organisasi.
MODEL
PERUBAHAN ORGANISASI
Perubahan organisasi merupakanhasil
pembuatan keputusan. Para manajer mengevaluasi situasi tertentu organisasi
tertentu dan memutuskan dimana mereka akan menjalankan organisasi dimasa yang
akan datang. Mereka kemudian mengatur proses perubahan untuk mencapai situasi
ideal yang diharapkan masing-masing langkah ini akan dibahas sebagai berikut.
·
Menentuka
Kebutuhan Perubahan
Untuk menentukan kebutuhan
perubahan, para manajer harus mengidentifikasikan masalah yang perlu
dipecahkan. Seringkali kebutuhan perubahan diperkenalkan karena seorang dalam
organisasi adanya jurang pemisah antara kinerja yang diharapkan dengan kinerja
aktual. Banyak tekanan yang menyebabkan organisasi mengevaluasi kembali situasi
tertentu mereka.
Perubahan pada tenaga kerja dan
kebutuhan untuk mengatur perubahan teknologi merupakan tekanan-tekanan yang menyebabkan
organisasi melihat situasi mereka.
Kemerosoyan
yang diukur oleh banyak faktor semacam pendapatan atau keuntungan penjualan
perusahaan merupakan satu indikasi bahwa perubahan dalam kinerja perusahaan
diperlukan. Kebanyakan perusahaan membandingkan kinerjanya dengan kinerja para
pesaingnya. Bahkan ketika kinerja perusahaan itu sedang menurun atau
ketinggalan, bagaimanapun juga, sepertinya para manajer akan kesulitan dalam
membuat suatu penilaian yang akurat dalam situasi yang sebenarnya. Satu alasan
dari sulitnya para manajer membuat penilaian kinerja ini merupakan pengaruh
dari bias-bias bersifat kognitif, yang mungkin menyebabkan para manajer untuk menggambarkan
suatu keadaan kinerja perusahaan yang menyenangkan.
Jelasnya
menentukan kebutuhan untuk perubahan dan mengatur perubahan proses pembuatan
keputusan yang kompleks. Para manajer menghasilkan sejumlah skenario alternatif
yang mungkin akan memenuhi mereka pencapaian keadaan masa depan yang ideal bagi
mereka. Para manajer kemudian memusatkan perhatiannya pada alternatif yang
tampaknya menawarkan perubahan keberhasilan yang paling baik atau yang paling
memuaskan. Pada keadaan ini para manajer memiliki pilihan mengenai bagaiman
untuk memproses alternatif tersebut. Mereka bisa mengadopsi suatu pendekatan
evolusioner ataupun revolusioner untuk mengatur perubahan.
Para manajer memilih pendekatan
evolusioner membuat perubahan tambahan terhadap strategi dan struktur
prusahaan. Suatu pedekatan bersifat evolusioner ketika biaya-biayanya dikaitkan
dengan perusahaan-perusahaan kurang dari keuntungan-keuntungan yang dikaitkan
dengan perubahan. Misalya, biaya-biaya datang dari gangguan dalam rutinitas
perusahaan disebabkan oleh implimentasi perencanaan baru yang kurang dari
keuntungan-keuntungan yang dikaitkan dengan perubahan, seperti mempercepat
pengembangan produk.
Para manajer memilih pendekatan
revolusioner membuat perubahan drastis
terhadap strategi dan struktur perusahaan. Mereka percaya bahwa perubahan akan
menyebabkan semacam tingkat gangguan yang tinggi bahwa biaya perubahan akan
melampaui keuntungan-keuntungannya. Dalam situasi ini, para manajer mengadopsi
pendekatan revolusionari. Selaim membuat perubahan-perubahan satu persatu,
mereka menunggu hingga perubahan benar-benar perlu dan kemudian melakukan
perubahan secara serempak. Perubahan revolusioner pada strategi dan struktur
seringkali mengubah cara organisasi beroperasi. Dalam banyak kasus kita telah
melihat tim top manajemen baru mengadopsi pendekatan revolusioner dalam
usahanya untuk menarik perusahaan keluar dari keadaan kerisis.
Sebagian
peneliti mengklaim bahwa karena pengaruh perubahan strategi dan struktur selalu
tidak menentu, sebaiknya menunggu hingga perubahan benar-benar diperlukan dan
kemudian menggunahan pendekatan revolusioner dan menyapu secara keseluruhan
pengetahuan sebelumnya untuk mempermudah proses belajar meninggalkan pengalaman
masa lampau. Satu alasan mengapa para peneliti menganjurkan pendekatan
revolusioner untuk perubahan adalah pentingnya akan penanggulangan kelembaman
perusahaan yang dihasilkan dari berbagai macam rintangan untuk berubah.
·
Menentukan
strategi Prubahan
Kecenderunagn
karyawan bersama-sama mengikuti rutinitas secara membabi buta dan kecendrungan
struktur dan kultur perusahaan untuk menghidupkan terus menerus rutinitas
merupakan halangan-halangan perubahan yang paling berat. Dengan adanya halangan
semacam ini, perusahaan harus memilih antara perubahan evolusioner dan
revolusioner. Suatu perusahaan yang mengejar perusahaan revolusioner mengadopsi
strategi perubahan top-down. Perusahaan ini menunggu hingga perusahaan tersebut
percaya bahwa biaya-biaya yang tidak dipakai untuk perubahan melebihi biaya
penanggulangan kelembaman perusahaan dan kemudian memasukkan perencanaan utama
untuk melakukan perubahan. Umumnya strategi top down membutuhkan campur tanggan
perusahaan tingkat tinggi. Andaikata suatu perusahaan memutuskan untuk
mengurangi jumlah divisi operasionalnya dan juga staffnya Top manajemen
menginstruksikan para devisinya untuk merestrukturasi sumber-sumber keuntungan
dan kemampuan mereka dan memeriksa kembali cara mereka beroperasi agar supaya
bisa memperbaiki keefektifitasannya. Perencanaan perubahan kemudian dilanjutkan
keperusahaan, setelah setiap level bergerak mengubah struktur-strukturnya untuk
menyesuaikan realita-realita baru dan para top manajer memberikan para manajer
fungsional dengan tujuan-tujuan dan prioritas-prioritas baru.
Perubahn top down sering kali
melibatkan penyimpanan-penyimpanan aturan-aturan dan prosedur-prosedur
perusahaan secara besar-besaran. Perubahan top down menekankan temuan-temuan
pemecahan masalah setelah mereka menimbulkan dan menganggkat suatu pendekatan
tak terstruktur terhadap pembuatan keputusan untuk memperkenankan para manajer
bereksperimen dan menemukan cara baru mengorganisasi.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Dalam
pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang dilakukan organisasi
melibatkan sebuah keputusan dari berbagai macam. Jelasnya, sebuah organisasi
bukan hanya merupakan sebuah mesin kreasi, namun juga sebuah mesin pembuat
keputusan. Pada setiap tingkat, dan dalam setiap sub unit, masyarakat secara
kontinyu membuat keputusan, dan bagaimana mereka membuat batasan-batasan dengan
baik, serta seberapa banyak nilai yang diciptakan organisasi mereka. Jadi dalam
pembuatan keputusan yang dibahas dalam makalah ini, juga terdapat model-model
pembuatan keputusan dalam organisasi yang dapat memudahkan dalam pembejaran
dalam pembuatan keputusan organisasi, dan model dalam perubahan organisasi
sehingga dapat kita pelajari dalam proses pengorganisasian.
- Kritik dan Saran
Dalam makalah ini saya dapat
mengkritik bahwa, dalam pembuatan keputusan organisasi mungkin dapat dirangkai bahwa
dalam organisasi itu terjadinya pembuatan keputusan karena mengarah pada
krisis. Dimana karena adanya masalah-masalah yang mendesak bahkan masalah yang
tidak terasa dapat menyebabkan dimana krisis mengembang. Sehingga dari hal-hal
tersebut dapat seperti istilah Nytrom
dan Starbuck sebagai weathering the
strom strategies dapat terjadinya penundaan investasi, menurunkan jumlah
pekerja, atau sentralisasi pembuatan keputusan dan menurunkan otonomi
masyarakat pada tingkat rendah dalam organisasi. Para manajer mengadopsi
pendekatan tambahan pada pembuatan keputusan karena lekat terhadap apa yang
mereka tahu adalah lebih aman dari pada memunculkan arah-arah baru dimana
konsekuensi tidak diketahui. Para manajer melanjutkan untuk mengantungkan
informasi yang dicapai dari operasi rutin untuk memecahkan masalah-masalah informasi
yang tidak menyelsaikan dasar sebenarnya
dari masalah yang mereka alami. Saran, agar dalam pembuatan keputusan dapat
mengambil tindakan atau keputusan-keputusan yang akan menguntungkan semua pihak
tanpa adanya pihak-pihak yang dirugikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar