Management Konflik
Pengantar
Kata konflik sering dihubungkan
dengan pertengkaran, perkelahian, pengrusakan, dst. Pokoknya selalu memiliki
konotasi negatif. Contohnya konflik Ambon,
tanpa berpikir mendalam setiap orang tahu apa yang dimaksud. Demikian juga
kalau kita dengar tentang konflik di gereja Anu, kita segera tahu apa yang
dimaksudkan.
Konflik selalu melibatkan dua, atau
lebih, sisi yang berlawanan, baik itu berhubungan dengan orang, peraturan,
budaya, maupun benda-benda tertentu. Menurut kamus Umum Bahasa Indonesia,
konflik diartikan sebagai percekcokan; perselisihan; pertentangan; atau
ketegangan. Contoh sederhana adalah konflik batin, artinya bahwa dalam diri
seseorang terdapat dua atau lebih gagasan atau keinginan yang saling
bertentangan; hal ini biasanya akan sangat mempengaruhi tingkah lakunya. Contoh
lain adalah konflik sosial, artinya ada pertentangan/persaingan antaranggota
masyarakat yang bersifat menyeluruh.
Konflik bisa terjadi manakala
pihak-pihak yang bertentangan saling bertemu dan berbenturan. Perbedaan, bahkan
yang berlawanan (bertentangan) sekalipun, tidak selamanya berdampak negatif
(asal tidak berbenturan), misalnya aliran listrik yang berbeda kutub (positif
dan negative dalam listrik arus searah) akan menimbulkan tegangan, dan tegangan
itu justru diperlukan untuk menghasilkan arus listrik. Kalau sikon ini bisa
diarahkan dengan baik akan menghasilkan hal yang berguna. Ambillah contoh pada
baterai, sewaktu tegangannya masih kuat nyala lampu yang terpasang pada lampu
senter akan menyala terang, sebaliknya, kalau tegangannya berkurang lampunya
redup bahkan tidak akan menyala. Tetapi jangan dikontak langsung, akan terjadi
benturan yaitu “kortsluiting” atau hubung-pendek dan hasilnya… kerusakan.
Dalam makalah ini yang dimaksud
dengan konflik (atau pertentangan) adalah suatu proses yang mulai bila satu
pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif, atau akan
segera mempengaruhi secara negatif, sesuatu yang menjadi perhatian pihak
pertama (Robbins, Stephen P., Organizational Behavior: Concepts,
Controversies, Applicatons, 8th ed., Prenhall 2002, p. 90).
Artinya bahwa bila dalam suatu kegiatan yang tengah berlangsung terdapat titik
interaksi yang “saling bersilanganan,” titik tersebut berpotensi menjadi
konflik antar pihak. Konflik yang terjadi bisa berbentuk kasar, terbuka, dan
penuh kekerasan atau pun halus dalam bentuk ketidaksepakatan.
Sebelum saya berlanjut perlu saya
informasikan dahulu bahwa yang saya maksudkan dengan “managemen konflik” di
dalam makalah ini adalah bagaimana mengatur, mengarahkan, dan mengelola
perbedaan (bahkan pertentangan) yang ada dalam organisasi sehingga menghasilkan
hal yang positif dan bermanfaat. Jadi bahasan kita akan banyak berkisar pada
masalah organisasi dan kepemimpinan.
Tiga Pandangan tentang Konflik
Dunia organisasi mengenal tiga
pandangan tentang konflik, dan masing-masing memiliki argumentasinya
sendiri-sendiri untuk membenarkan pendapatnya.
Pertama, pandangan tradisional. Pandangan ini menekankan dan mempercayai bahwa semua konflik itu buruk. Konflik dipandang secara negatif dan sering disinonimkan dengan kekerasan, perusakan dan ketidakrasionalan demi memperkuat konotasi negatifnya. Pokoknya konflik selalu merugikan dan harus dihindari.
Pertama, pandangan tradisional. Pandangan ini menekankan dan mempercayai bahwa semua konflik itu buruk. Konflik dipandang secara negatif dan sering disinonimkan dengan kekerasan, perusakan dan ketidakrasionalan demi memperkuat konotasi negatifnya. Pokoknya konflik selalu merugikan dan harus dihindari.
Pandangan ini berjaya pada
dasawarsa 1930-an. Konflik dianggap sebagai hasil dari komunikasi yang buruk,
kurang keterbukaan, dan kepercayaan antara orang-orang dengan para manajer.
Sebaliknya para manajer dianggap tidak tanggap terhadap kebutuhan para
karyawan.
Kedua, pandangan “human
relation,” yang menyatakan bahwa konflik merupakan peristiwa yang wajar dalam
setiap kelompok dan organisasi. Konflik
diterima sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan, oleh karena itu konflik harus
diterima. Konflik bisa menjadi pemacu kinerja (performance) kelompok.
Ketiga, pandangan
Interaksionis, yang berpendapat bahwa konflik bukan hanya sebagai hal yang tak
terhindarkan dan memiliki kekuatan positif, melainkan sebagai hal yang mutlak
perlu dalam setiap kelompok/organisasi agar dapat berkinerja efektif. Menurut
pandangan ini, konflik justru diperlukan agar gagasan atau ide-ide segar dan
baru selalu dimunculkan. Organisasi tidak mandek sebab selalu terbuka untuk
menerima gagasan-gagasan segar dari banyak pihak. Sifat demokrasi dalam
organisasi menjadi nampak dan “yes man” tidak akan dipakai lagi dalam
organisasi.
Namun dalam hal ini perlu disadari betul bahwa konflik yang dimaksud oleh
interaksionis adalah konflik yang bersifat fungsional, yaitu konflik yang
bersifat konstruktif; bukan konflik disfungsional yang bersifat destruktif.
Memang garis perbedaan dua macam konflik ini tidak tegas dan jelas tetapi semua
akan diukur dari yang dihasilkannya bagi organisasi (bukan secara individual).
Kita juga harus sadar bahwa pada satu waktu konflik fungsional dapat menjadi
disfungsional di lain waktu.
Proses
Konflik
Stephen Robbins menggambarkan proses konflik dengan lima tahapan: tahap
pertama adalah adanya oposisi atau ketidak cocokan; kedua, kognisi dan
personalisasi; ketiga, maksud; keempat, perilaku; dan kelima adalah hasil dari
konflik tersebut. Perhatikan bagan pada halaman berikutnya.
Jadi langkah pertama untuk memulai
proses ke-konflik-an adalah adanya kondisi atau situasi yang menciptakan
kesempatan untuk lahirnya konflik itu. Sikon ini dilahirkan dari tiga kategori
umum: komunikasi, struktur organisasi/kelompok, dan variabel/keragaman pribadi
yang terlibat dalam organisasi.
Sumber-sumber konflik
Pada umumnya konflik dalam
organisasi terjadi jika ada dua atau lebih pendapat yang berbeda atau
bertentangan yang tidak dapat dikompromikan. Jika masing-masing pihak tetap
ngotot pada pendapatnya sendiri atau kelompoknya maka konflik itu akan
berkepanjangan dan bisa membuahkan perpecahan yang merugikan. Walaupun tidak ada perpecahan sekalipun dalam
organisasi itu, jika konflik belum teratasi dengan tuntas maka akan terjadi
hambatan-hambatan dalam bekerjasama. Hasil yang diharapkan organisasi tersebut
tentunya tidak maksimal. Gereja, sebagai organisasi, tidaklah kebal terhadap
masalah konflik ini.
Peter Wiwcharuck menggambarkan gereja, sebagai hasil risetnya, dengan
“grafik lonceng.” Dia memberi nama “Bell Curve” seperti ini:
Artinya, bahwa gereja-gereja di seluruh dunia cenderung pada gambar di atas. Sepuluh persen anggota gereja sangat aktif dan penuh dedikasi, sepuluh persennya lagi sangat pasif, bahkan cenderung menjadi oposan, suka mengeritik melulu; sedang yang delapan puluh persennya adalah penonton. Konflik sering terjadi antara kelompok yang sepuluh persen itu, dan sedihnya kelompok ini berusaha mempengaruhi yang 80% sisanya.
Mengapa kebanyakan gereja mengkristal organisasinya seperti “grafik
lonceng” itu? Wiwcharuck melihat ada 3 penyebab umum, yang tentunya berpotensi
menjadi sumber konflik, yaitu:
1. Beberapa alasan mengapa “grafik lonceng” terjadi dalam gereja
a. Filosofi (filsafat) kepemimpinan dalam gereja yang tidak tepat
i. “ikutlah Aku…”
ii. “Aku menjadikan kamu penjala manusia…”
iii. “Pergilah kamu…”
b. Biasanya gereja hanya berkisar pada perhimpunan, kehadiran dalam
kebaktian dinilai sebagai kekristenan itu sendiri.
c. Gereja tidak atau kekurangan tujuan yang jelas dan pasti
2. Tiga prinsip dasar dalam kepemimpinan
a. Pada umumnya orang hanya pergi ke mana pemimpinnya memimpin atau
mengijinkan mereka pergi.
b. Pemimpin hanya dapat membawa anggota sejauh ia sendiri “dapat/mampu” dan
“mau” pergi.
c. Kita perlu sadar bahwa tidak akan ada suatu pun yang terjadi tanpa
ada kepemimpinan yang mendasarinya.
Masalah yang timbul bisa memicu adanya konflik. Pada bagian ini kita akan belajar dan
berdiskusi tentang tiga hal di bawah ini:
1. Mengenal arti apa yang dimaksud dengan “masalah (problem)” itu.
2. Mengembangkan sikap yang tepat dalam menghadapi masalah/konflik.
3. Mengenal dan mengembangkan cara-cara mengatasi masalah/konflik.
Sangat sulit untuk membuat definisi tentang masalah sebab setiap orang
mempunyai definisinya sendiri-sendiri tentang apa masalah itu. Apa yang
dianggap sebagai masalah oleh seseorang tidak selalu dianggap masalah bagi
orang lain.
Walaupun demikian dapat kita ringkaskan arti dari “problem/masalah” itu
(demi mengatasinya) sebagai berikut:
Masalah adalah kondisi atau situasi normal yang sudah berubah menjadi tidak
normal karena…
1. Salah pengertian. Banyak masalah timbul karena orang
salah mengerti tindakan atau perkataan orang lain atau salah mengerti tentang
situasi dan kondisi. Salah mengerti termasuk:
a. Ketidakmampuan “melihat” dengan jelas
b. Ketidakmampuan melihat semua factor atau unsur yang terlibat
c. Salah mengerti tentang apa yang dimaksud atau apa yang dilihat
d. Salah menafsirkan arti atau motive di balik perkataan atau perbuatan
seseorang
e. Ketidakcocokan
f. Pertengkaran/perselisihan karena kurang puas atas jawaban atau tindakan
seseorang
2. Salah menafsirkan. Banyak juga masalah yang muncul
karena salah menafsirkan tindakan atau perkataan orang lain atau keadaan
disekelilingnya.
3. Kekacauan. Semua data yang diperlukan tersedia tetapi
tidak berurutan secara kronologis atau tidak sesuai urutannya dengan kebiasaan
berpikir kita.
4. Konfrontasi-konfrontasi. Ini berarti ada
hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan. Hambatan itu bisa nyata atau khayalan
saja (gambaran mental saja) seperti kekuatiran dan ketakutan.
5. Kekurangan jawab yang diterima atau tidak sefaham (setuju)
dengan pemecahan-pemecahan yang diterapkan (kurang informasi). Dalam hal ini ada dua tipe jawaban:
Tepat atau bisa diterima.
6. Sikap yang salah atau tidak bersifat islami
Kesulitan-kesulitan tidak ada KECUALI kita menjadikan situasi normal berubah menjadi masalah. Jika kita harus memilih antara berorientasi pada MASALAH atau SITUASI, kesulitannya bukanlah terletak pada APA yang sedang terjadi melainkan pada SIKAP kita menghadapi persoalan itu.
Kesulitan-kesulitan tidak ada KECUALI kita menjadikan situasi normal berubah menjadi masalah. Jika kita harus memilih antara berorientasi pada MASALAH atau SITUASI, kesulitannya bukanlah terletak pada APA yang sedang terjadi melainkan pada SIKAP kita menghadapi persoalan itu.
7. Keperluan secara fisik, psikologis, dan spiritual tidak
terpenuhi. Dalam hal ini perlu dipertajam perbedaan antara APA YANG
DIPERLUKAN (sungguh-sungguh diperlukan) dengan APA YANG DIINGINKAN.
Masalah/problem sering hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan
kegiatan kita tetapi ia dapat menghambat seluruh kegiatan untuk mencapai yang
terbaik. Seorang yang ahli mengatasi masalah akan mampu memisahkan “bagian
kecil” itu dari keseluruhan operasionalnya.
Masalah menampilkan diri dalam:
· Situasi
yang nyata
· Dialami
saat ini
· Dialami
masa lalu
· Situasi
yang bersifat imajinatif
· Situasi
yang dibayangkan “dapat,” “bisa jadi,” atau “bakal” terjadi di masa depan
· Situasi
yang dibayangkan “tidak dapat” dan “tidak mungkin” bisa terjadi.
Apakah “masalah” itu sesuatu yang buruk?
Situasi apa pun dapat menjadi masalah (dan
menimbulkan konflik) jika…
· Kita
merasa bahwa harus ada jawab atas persoalan itu tetapi kita tidak mendapatkannya.
· Hal
tersebut tidak dapat diterima sebagai bagian dari situasi yang normal.
· Hal
tersebut tetap tidak dapat terselesaikan dalam waktu yang cukup lama.
Masalah yang buruk dapat
menjadi pengalaman yang indah kalau…
· Akibat
pengalaman itu dapat ditafsirkan sebagai “kemenangan”
Persoalan-persoalan dalam kepemimpinan yang
biasanya memicu konflik:
1.
Masalah-masalah yang berhubungan dengan GAGASAN (Visi)
a. Ketidakmampuan menciptakan gagasan (visi) yang baru
b. Ketidakmampuan menangkap gagasan yang diciptakan orang lain (anggota)
c. Ketidakmampuan menjabarkan gagasan menjadi hal-hal yang dapat dijalankan
(menjadi praktis)
Tidak sedikit pemimpin Kristen yang gagal pada
bagian ini!
2. Masalah
yang berkaitan dengan fasilitas (kekayaan). Manusia banyak membuang waktu untuk
bekerja “dengan” atau “bagi” kekayaan (fasilitas)-salah satu.
a. Kekurangan fasilitas
b. Mempunyai fasilitas yang salah
c. Terlalu kaya (terlalu banyak fasilitas)
d. Fasilitas yang rusak dan tak bisa diperbaiki
e. Tidak tahu menggunakan fasilitas yang ada dengan semestinya.
3.
Masalah dengan orang
a. Sikap
i. Terhadap diri sendiri
ii. Terhadap orang lain
iii. Terhadap Tuhan
b. Masalah kerohanian
i. Kepekaan rohani
ii. Respons terhadap hal-hal rohani (kepemimpinan rohani)
iii. Kondisi rohani yang rusak
iv. Kehidupan doa
4. Masalah
dengan waktu
a. Kekurangan waktu
b. Terlalu banyak waktu
c. Salah menggunakan waktu
d. Perbenturan waktu
5. Masalah
dengan kepemimpinan
a. Kekurangan pemimpin (krisis)
b. Kekurangan pemimpin yang baik
c. Kekurangan pengembangan kepemimpinan
d. Jabatan pemimpin yang tumpang tindih
e. Kekurangan tanggapan yang memadai dari setiap jenjang kepemimpinan dalam
organisasi
f. Ada konflik dalam kepemimpinan atau antar pemimpin
g. Ketidaksediaan atau ketidakmampuan pemimpin menilai keefektifan peran anggota
(pemimpin lain yang di bawahnya)
6. Masalah
dengan iman
a. Tidak beriman/kurang beriman
b. Mencampuradukkan antara iman dan perasaan
c. Keraguan/mendua hati
Bagaimana
kita memecahkan persoalan:
1. Kita dapat mengabaikannya. Kita telah membiasakan diri
kita untuk mengabaikan masalah, untuk tidak melihat kebanyakan persoalan kita.
Seandainya kita tidak sanggup mengabaikan sesuatu, pasti kita semua akan masuk
rumah sakit jiwa.
Peringatan: masalah-masalah kecil yang sering muncul kembali merupakan gejala adanya masalah tersembunyi yang lebih besar, sehingga persoalan-persoalan seperti itu perlu diselidiki.
Peringatan: masalah-masalah kecil yang sering muncul kembali merupakan gejala adanya masalah tersembunyi yang lebih besar, sehingga persoalan-persoalan seperti itu perlu diselidiki.
2. Kita dapat menghindarinya. Sama seperti menghadapi
seekor “skunk,” jika kita menyerangnya kita akan menciptakan masalah baru yang
tadinya tidak ada.
3. Kita dapat menjaga agar jangan timbul permasalahan.
Misalnya menyimpan korek api dimana anak-anak tidak dapat meraihnya.
4. Kita dapat memecahkannya. Tetapi ingat bahwa tidak
setiap persoalan mempunyai pemecahan yang sama.
a. Pemecahan melalui kesimpulan untuk situasi dimana sebenarnya tidak ada
persoalan. Misalnya, kalau timbul suatu kesalahfahaman, pengertian yang lebih
baik dapat memecahkan atau mengakhiri persoalan.
b. Pemecahan sebagai pemecahan. Misalnya seorang yang telah kehilangan kaki
karena kecelakaan, maka ia membutuhkan kaki buatan (pemecahan praktis), bukan
berarti ia tidak punya masalah.
5. Kita dapat belajar hidup dengan persoalan itu seseorang
memberikan suatu pemecahan praktis untuk kondisi krisis. Apakah Allah mengubah
kondisi itu? Tidak! Apakah Allah menolong orang tersebut memecahkan persoalan
itu? Tentu saja! Allah menolong orang tersebut dengan jalan menunjukkan bahwa
kondisi itu bermanfaat baginya sehingga orang tersebut menyetujuinya. Dengan
jalan itu orang tersebut menerima situasi yang tidak biasa sebagai situasi
yang biasa dalam hidupnya.
6. Sikap kristiani terhadap masalah:
Tehnik Manajemen Konflik
Tehnik
Pemecahan Konflik
|
|
Pemecahan masalah
|
Pertemuan tatap
muka dari pihak-pihak yang berkonflik dengan maksud mengidentifikasi masalah
dan memecahkannya lewat pembahasan yang terbuka.
|
Tujuan atasan
|
Menciptakan
suatu tujuan bersama yang tidak dapat dicapai tanpa kerja sama dari
masing-masing pihak yang sedang konflik.
|
Perluasan sumber daya
|
Bila konflik
disebabkan oleh kelangkaan sumber daya — misalnya uang, kesempatan promosi,
ruang kantor – perluasan sumber daya dapat menciptakan solusi menang-menang.
|
Penghindaran
|
Menarik diri dari (atau menekan) konflik.
|
Perataan
|
Mengecilkan
arti perbedaan sementara menekankan kepentingan bersama antara pihak-pihak
yang berkonflik.
|
Kompromi
|
Tiap pihak yang
sedang konflik itu melepaskan (mengorbankan) sesuatu yang berharga.
|
Komando otoritatif
|
Manajemen
menggunakan otoritas formal untuk memecahkan konflik dan kemudian
mengkomunikasikan keinginannya kepada pihak-pihak yang terlibat
|
Mengubah variabel
manusia
|
Menggunakan
tehnik pengubahan perilaku manusia misalnya pelatihan hubungan manusia untuk
mengubah sikap dan perilaku yang menyebabkan konflik
|
Mengubah variabel
struktur
|
Mengubah
struktur organisasi formal dan pola struktural interaksi dari pihak-pihak
yang berkonflik lewat desain ulang pekerjaan, pemindahan, penciptaan posisi
koordinasi, dan yang serupa itu.
|
Tehnik
perangsangan konflik
|
|
Komunikasi
|
Menggunakan
pesan-pesan yang ambigu (serba mendua) atau mengancam memperkuat tingkat
konflik.
|
Memasukkan orang luar
|
Menambahkan
karyawan yang latar belakang nilai, sikap, gaya manajerialnya berbeda dari
anggota-anggota yang ada ke dalam kelompok.
|
Menstruktur-ulang
organisasi
|
Mengatur-ulang
kelompok-kelompok kerja, mengubah tatanan dan peraturan, meningkatkan
kesalingbergantungan, dan membuat perubahan struktural yang serupa untuk
mengacaukan status-quo.
|
Mengangkat pembela
oposisi
|
Menunjuk
seorang pengritik untuk dengan sengaja berargumen menentang pendirian
mayoritas yang dipegang oleh kelompok itu.
|
Komentar
Posting Komentar